LAPORAN PRAKTIKUM ANATOMI DAN FISIOLOGI TUMBUHAN
TRANSPIRASI
OLEH :
PUTRI ADRIANTI SARAGIH
F05111015
KELOMPOK
3
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013
ABSTRACK
Air merupakan
salah satu faktor penentu bagi berlangsungnya kehidupan tumbuhan. Banyaknya air
yang ada didalam tubuh tumbuhan selalu mengalami fluktuasi tergantung pada
kecepatan proses masuknya air kedalam tumbuhan, kecepatan proses penggunaan air
oleh tumbuhan, dan kecepatan proses hilangnya air dari tubuh tumbuhan.
Hilangnya air dari tubuh tumbuhan dapat berupa cairan dan uap atau gas.
Transpirasi dapat diartikan sebagai proses kehilangan air dalam bentuk uap dari
jaringan tumbuhan melalui stomata . proses kehilangan air terbesar melalui stomata. Transppirasi pada tumbuhan
yang memiliki daun sedikit terjadi dikutikula. Transpirasi umumnya terjadi
ketika stomata terbuka saat proses fotosintesis. Laju transpirasi pada suatu tumbuhan dikendalikan oleh lima faktor, yaitu ketersediaan energi, gradien kelembaban, kecepatan angin, ketersediaan air, dan cahaya. tanaman yang digunakan pada praktikum ini adalah
impatiens balsamin, tanaman ini digunakan karena tanaman ini memiliki laju transpirasi
yang tinggi. Percobaan kali ini
bertujuan untuk mengetahui kecepatan transpirasi daun secara tidak langsung
dengan mengukur kecepatan absorbsi air
pada tanaman impatiens balsamin, apakah faktor angin, cahaya matahari, dan
kelembaban mempengaruhi laju transpirasi pada tanaman impatiens balsamin? faktor manakah
yang paling besar berpengaruh terhadap tanaman tersebut?. Percobaan ini
dilakukan pada kondisi yang berbeda, yaitu di depan kipas angin dengan kecepatan 1, 2 dan 3, dibawah sinar
matahari
langsung dan didalam ruangan. Kecepatan rata-rata transpirasi pada kondisi
pemberian angin yaitu 3 mm3/s pada kecepatan 1,
3,33 mm3/s pada kecepatan 2,dan
4,67 mm3/s pada kecepatan 3,
didalam ruangan didapat kecepatan rata-rata transpirasi yaitu 1 mm3/s, dan dibawah sinar matahari langsung
yaitu 13,56 mm3/s.
Kata kunci : transpirasi, air, uap,stomata.
PENDAHULUAN
Transpirasi
pada hakekatnya adalah penguapan. Transpirasi dapat diartikansebagai hilangnya
air dalam bentuk uap air dari dalam
jaringan tubuh
Secara umum
yang dimaksud dengan penguapan adalah suatu proses pergerakan molekul-molekul
zat cair dari permukaan zat cair tersebut ke udara bebas. Hilangnya air dari
tubuh tumbuhan sebagian besar melalui permukaan daun disebut sebagai
transpirasi.
Pada umumnya transpirasi ini terjadi melalui daun akan tetapi dapat juga melalui permukaan tubuh yang lainnya seperti batang. Oleh karena itu dikenal 3 jenis transpirasi, yaitu transpirasi melalui stomata, melalui kutikula, dan melalui lentisel. Walaupun demikian, bahasan transpirasi ini biasanya bibatasi pada masalah-masalah transpirasi melalui daun, karena sebagian besar hilangnya molekul-molekul air ini lewat permukaan daun tumbuhan.
Mengingat akan pentingnya pemahaman tentang proses transpirasi, maka diadakanlah praktikum ini dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan transpirasi dan untuk mengetahui jumlah air yang yang diuapkan / satuan luas daun dalam waktu tertentu.
Pada umumnya transpirasi ini terjadi melalui daun akan tetapi dapat juga melalui permukaan tubuh yang lainnya seperti batang. Oleh karena itu dikenal 3 jenis transpirasi, yaitu transpirasi melalui stomata, melalui kutikula, dan melalui lentisel. Walaupun demikian, bahasan transpirasi ini biasanya bibatasi pada masalah-masalah transpirasi melalui daun, karena sebagian besar hilangnya molekul-molekul air ini lewat permukaan daun tumbuhan.
Mengingat akan pentingnya pemahaman tentang proses transpirasi, maka diadakanlah praktikum ini dengan tujuan untuk mengetahui kecepatan transpirasi dan untuk mengetahui jumlah air yang yang diuapkan / satuan luas daun dalam waktu tertentu.
Transpirasi adalah hilangnya air dari
tubuh-tumbuhan dalam bentuk uap melalui stomata, kutikula atau
lentisel. Ada dua tipe transpirasi, yaitu (1) transpirasi kutikula adalah
evaporasi air yang terjadi secara langsung melalui kutikula epidermis; dan (2)
transpirasi stomata, yang dalam hal ini kehilangan air berlangsung melalui
stomata. Kutikula daun secara relatif tidak tembus air, dan pada sebagian
besar jenis tumbuhan transpirasi kutikula hanya sebesar 10 persen atau kurang
dari jumlah air yang hilang melalui daun-daun. Oleh karena itu, sebagian besar
air yang hilang melalui daun-daun (Wilkins, 1989).
Kecepatan transpirasi berbeda-beda
tergantung kepada jenis tumbuhannya. Bermacam cara untuk mengukur besarnya
transpirasi, misalnya dengan menggunakan metode penimbangan. Sehelai daun segar
atau bahkan seluruh tumbuhan beserta potnya ditimbang. Setelah beberapa waktu
yang ditentukan, ditimbang lagi. Selisih berat antara kedua penimbangan merupakan
angka penunjuk besarnya
transpirasi. Metode
penimbangan dapat pula ditujukan kepada air yang terlepas, yaitu dengan cara
menangkap uap air yang terlepas dengan dengan zat higroskopik yang telah diketahui
beratnya. Penambahan berat merupakan angka penunjuk besarnya transpirasi
(Tjitrosoepomo, 1998).
Proses transpirasi ini selain
mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat
mendinginkan tanaman yang terus menerus berada di bawah sinar matahari. Mereka
tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari karena
melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu
menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga
akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar
kelangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Sitompul, 1995).
Transpirasi juga merupakan proses yang
membahayakan kehidupan tumbuhan, karena kalau transpirasi melampaui penyerapan
oleh akar, tumbuhan dapat kekurangan air. Bila kandungan air melampaui batas
minimum dapat menyebabkan kematian. Transpirasi yang besar juga memaksa
tumbuhan mengedakan penyerapan banyak, untuk itu diperlukan energi yang tidak
sedikit. Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor baik faktor
dalam maupun faktor luar. Yang terhitung sebagaio faktor dalam adalah
besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau tidaknya
stomata. Hala-hal ini semua mempengaruhi kegiatan trasnpirasi pada tumbuhan
(Salisbury, 1992).
Kegiatan transpirasi secara langsung
oleh tanaman dipandang lansung sebagai pertukan karbon dan dalam hal ini
transpirasi sangat penting untuk pertumbuhan tanaman yang sedaang tumbuh
menentukan banyak air jauh lebih banyak daripada jumlah terhadap tanaman itu
sendiri kecepatan hilangnya air tergantung sebagian besar pada suhu
kelembapan relatif dengan gerakan udara. Pengangkutan garam-garam
mineral dari akar ke daun terutama oleh xylem dan secepatnya mempengaruhi oleh
kegiatan transpirasi. Transpirasi pada hakikatnya sama dengan penguapan, akan
tetapi istilah penguapan tidak digunakan pada makhluk hidup. Sebenarnya
seluruh bagian tanaman mengadakan transpirasi karena dengan adanya
transpirasi terjadi hilangnya molekul sebagian besar adalah lewat
daun hal ini disebabkan luasnya permukaan daun dan karena daun-daun itu
lebih terkena udara dari pada bagian lain dari suatu
tanaman (Lakitan, 2007).
Stomata akan membuka jika tekanan
turgor kedua sel penjaga meningkat (Dartius, 1991). Peningkatan
tekanan turgor oleh sel penjaga disebabkan oleh masuknya air kedalam sel
penjaga tersebut. Pergerakan air antar sel akan selalu dari sel yang mempunyai
potensi air lebih tinggike sel engan potensi lebih rendah. Tinggi rendahnya
potensi air sel tergantung pada jumlah bahan yang terlarut dari cairan tesebut,
semakin banyak bahan yang terlarut maka potensi yang terjadi pada sel semakin
rendah (Heddy, 1990).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju
transpirasi antara lain:
1.
Faktor-faktor internal yang mempengaruhi mekanisme
membuka dan menutupnya stomata
2.
Kelembaban udara sekitar
3.
Suhu udara
4.
Suhu daun tanaman (Guritno, 1995).
Angin dapat pula mempengaruhi laju transpirasi jika udara
yang bergerak melewati permukaan daun tersebut lebih kering (kelembaban
nisbihnya rendah) dari udara sekitar tumbuhan tersebut. Kerapatan
uap air diudara tergantung dengan resisitensi stomata dan kelembaban
nisbih dan juga suku udara tersebut, untuk perhitungan laju transpirasi.
Kelembaban nisbih didalam rongga substomata dianggap 100%. Jika
kerapatan uap air didalam rongga substomata sepenuhnya tergantung pada
suhu (Filter, 1991).
Daya hantar secara langsung dipengaruhi
oleh besarnya bukaan stomata. Semakin besar bukaan stomata maka daya hantarnya
akan semakin tinggi. Pada beberapa tulisan digunakan beberap istilah resistensi
stomata. Dalam hubungan ini daya hantar stomata berbanding dengan resistensi
stomata (Dwijoseputro, 1983).
Dalam
praktikum ini diperlukan bahan Coleus scutellariodes
dan alat fotometer. Adapun tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur kecepatan
tranpirasi daun secara tidak langsung dengan mengukur kecepatan absorpsi
airnya.
METODELOGI
A. Alat dan Bahan
Pada praktikum kali ini alat yang digunakan adalah fotometer,sumbat karet berlubang,silet dan ember kotak plastik. Sedangkan bahan yang digunakan adalah tumbuhan impatiens balsamina yang kokoh, air dan vaselin.
B.
Metodelogi
Praktikum ini dilakukan di
laboratorium Pendidikan Biologi pada hari senin, tanggal 13 mei 2013 di Laboratorium Biologi FKIP Uniersitas Tanjungpura.
Pada praktikum kali ini alat yang digunakan adalah fotometer, sumbat karet
berlubang, silet dan ember kotak plastik. Sedangkan bahan yang digunakan adalah
tumbuhan Coleus scutellariodes yang kokoh, air,
dan vaselin.
Untuk
praktikum transpirasi pertama-tama tumbuhan Impatiens
balsamina dengan batang yang kokoh dipilih. Batang
dipotong basal dan secepatnya diletakkan di air. Masih didalam air, ujung
batang Impatiens balsamina dimasukkan
ke dalam sumbat karet berlubang hingga tidak bergerak tetapi tidak sampai
patah. Kemudian fotometer diisi dengan air,dengan cara fotometer direndam ke
dalam air hingga semuannya terisi air dan tidak ada gelembung air didalamnya.
Sumbat karet yang telah berisi oleh Impatiens
balsamina disisipkan ke dalam fotometer dalam
keadaan masih dalam air. Saat memasukkan sumbat karet pegang gelas fotometer
dengan baik. Hati-hati jangan sampai pecah. Lalu sekarang seluruh sistem
fotometer diangkat dari air dan tempat pada penyokongnya. Bagian antara tanaman
dan lubang pada sumbat karet diolesi dengan vaselin. Impatiens balsamina dibiarkan
sebentar untuk bertranspirasi sampai ada gelembung pada ujung tabung fotometer.
Pada saat gelembung memasuki daerah berskala pada tabung maka dengan mengitung
jarak yang ditempuh oleh gelembung per satuan waktu dicatat. Kecepatan
transpirasi dicatat minimal 3 kali dalam kondisi didepan kipas angin, didalam ruangan dan di
bawah matahari terang benderang.
ANALISIS
DATA
Table Pengamatan Laju Transpirasi
Pacar Air
|
Kondisi
|
Waktu (t)
|
Jarak (s)
|
Kelajuan (v)
|
|
Kipas Angin
|
Skala 1 : 300 s
Skala 2 : 300 s
Skala 3 : 300 s
|
0.9 ml
1 ml
1,4 ml
|
3 mm3/s
3,33 mm3/s
4,67 mm3/s
|
|
Ruangan
|
5 menit
10 menit
15 menit
|
0,05 ml
0,09 ml
0,1 ml
|
0,167 mm3/s
0,15 mm3/s
0,1 mm3/s
|
|
Terik Matahari
|
5 menit
10 menit
15 menit
|
3,2 ml
7,1 ml
12,2 ml
|
10,67 mm3/s
11,83 mm3/s
13,56 mm3/s
|
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa laju
transpirasi yang paling tinggi dapat dilihat table di atas, yaitu pada
perlakuan dengan meletakkan impatiens balsamina dibawah sinar
matahari dengan kecepatan rata-rata 13,56 mm3/s. Diamana cahaya
matahari merupakan factor yang dapat menyebabkan transpirasi berlangsung dengan
cepat. Karena sinar matahari akan menyebabkan temperature permukaan daun
menjadi tinggi dan uap air di permukaan daun mengering, karena konsentrasi di luar tubuh
lebih rendah dari pada di dalam, sehingga air berdifusi dari dalam ke luar.
Pada pengamatan kedua,
tanaman impatiens balsamina di dalam
ruangan yang dikenai kipas angin. Diperoleh kecepatan rata-ratanya 3,66 mm3/s. Hasil ini lebih
tinggi dibandingkan perlakuan tanaman impatiens balsamina yang diletakkan diruangan
begitu saja, dimana kecepatan transpirasinya 0,1 mm3/s. Terjadinya
transpirasi lebih cepat di bawah kipas angin dikarenakan udara(angin)
menghembuskan udara lembab di permukaan daun, sehingga terjadi perbedaan
potensial air di dalam dan di luar lubang stomata akan meningkat. Bahwa angin
akan membawa massa uap air yang berada di sekitar tumbuhan, sehingga akan
menurunkan tekanan uap di sekitar daun dan dapat meningkatkan laju transpirasi.
Artinya semakin kencang dan banyaknya angin yang dihembuskan pada tanaman,
semakin meningkat laju transpirasinya. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa
semakin kencang angin maka laju transpirasinya lambat. Karena apabila angin
bertiup terlalu kencang, dapat mengakibatkan keluaran uap air melebihi
kemampuan daun untuk menggantikkannya dengan air yang berasal dari tanah,
sehingga lama-kelamaan dau akan mengalami kekurangan air. turgor sel akan
menurun termasuk turgor sel penjaga, dan akhirnya stomata tertutup. Sedangkan
laju transpirasi di dalam ruangan tidak terlalu banyak perubahan. Hal
ini mungkin dikarenakan factor-faktor yang mempengaruhi tidak
begitu berarti.
Selain Faktor angin dan cahaya,
Kualitas kesegaran tanaman impatiens balsamina juga memberikan
pengaruh dalam laju transpirasi. Dimana tumbuhan yang Segar akan lebih
cepat bertranspirasi dibandingkan dengan Tanaman yang sudah agak
layu. Faktor lainnya yang mempengaruhi yakni jumlah daun. Karena semakin banyak
jumlah daun semakin banyak pula jumlah stomata, sehinga tempat penguapan air
juga akan semakin luas.
Transpirasi dapat diartikan sebagai
proses kehilangan air dalam bentuk uap dari jaringan tumbuhan melalui stomata
(Lakitan, 1993). Kemungkinan kehilangan air dari jaringan lain dapat saja
terjadi, tetapi porsi kehilangan tersebut sangat kecil dibandingkan dengan yang
hilang melalui stomata. Oleh sebab itu, dalam perhitungan besarnya jumlah air yang
hilang dari jaringan tanaman umumnya difokuskan pada air yang hilang melalui
stomata (Loveless,1991).
Transpirasi dalam tanaman atau
terlepasnya air melalui stomata dapat melalui kutikula walaupun hanya 5-10%
dari jumlah air yang ditranspirasikan di daerah beriklim sedang. Air sebagian
besar menguap melalui stomata,sehingga jumlah dan bentuk stomata sangat
mempengaruhi laju transpirasi (Tjitrosomo, 1985).
Kegiatan
transpirasi dipengaruhi banyak faktor, baik faktor dalam maupun luar. Faktor
dalam antara lain besar kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapis lilin atau
tidaknya permukaan daun, banyak sedikitnya bulu pada permukaan daun, banyak
sedikitnya stomata, bentuk dan letak stomata (Salisbury&Ross.1992) dan
faktor luar antara lain:
1.
Kelembaban
Bila daun
mempunyai kandungan air yang cukup dan stomata terbuka, maka laju transpirasi
bergantung pada selisih antara konsentrasi molekul uap air di dalam rongga
antar sel di daun dengan konsentrasi mulekul uap air di udara.
2.
Suhu
Kenaikan suhu dari
180 sampai 200 F cenderung untuk meningkatkan
penguapan air sebesar dua kali. Dalam hal ini akan sangat mempengaruhi tekanan
turgor daun dan secara otomatis mempengaruhi pembukaan stomata.
3.
Cahaya
Cahaya
memepengaruhi laju transpirasi melalui dua cara pertama cahaya akan
mempengaruhi suhu daun sehingga dapat mempengaruhi aktifitas transpirasi dan
yang kedua dapat mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap
buka-tutupnya stomata.
4.
Angin
Angin mempunyai
pengaruh ganda yang cenderung saling bertentangan terhadap laju transpirasi.
Angin menyapu uap air hasil transpirasi sehingga angin menurunkan kelembanan
udara diatas stomata, sehingga meningkatkan kehilangan neto air. Namun jika
angin menyapu daun, maka akan mempengaruhi suhu daun. Suhu daun akan menurun
dan hal ini dapat menurunkan tingkat transpirasi.
5.
Kandungan air tanah
Laju transpirasi
dapat dipengaruhi oleh kandungan air tanah dan alju absorbsi air di akar. Pada
siang hari biasanya air ditranspirasikan lebih cepat dari pada penyerapan dari
tanah. Hal tersebut menyebabkan devisit air dalam daun sehingga terjadi
penyerapan yang besar, pada malam hari terjadi sebaliknya. Jika kandungan air
tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke
dalam akar menjadi lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air
pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut (Loveless,1991).
Transpirasi yang
terjadi memang dapat merugikan tanaman, namun juga bermanfaat bagi tanaman
antara lain
1.
Meningkatkan daya isap daun pada penyerapan air
2.
Mengurangi jumlah air dalam tumbuhan jika terjadi penyerapan
yang berlebihan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa Pada kondisi diberi perlakuan dengan angin, kecepatan rata-rata
transpirasi yaitu 3,66 mm3/s dengan kecepatan kipas angin
yang ke 1, 2, dan 3. Pada kondisi didalam ruangan, kecepatan rata-rata transpirasi
yaitu 0,1 mm3/s. Dan pada kondisi
dibawah sinar matahari, kecepatan rata-rata transpirasi yaitu 13,56 mm3/s. Perlakuan dibawah
sinar matahari lebih besar pengaruhnya terhadap kecepatan transpirasi
dibandingkan dengan perlakuan diatas meja dan dengan angin.
Dartius. 1991. Dasar-dasar
Fisiologi Tumbuhan. USU-Press. Medan.
Dwijoseputro, D. 1983. Pengantar
Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Filter, A. H.
dan R. K. M. Hay. 1991. Fisiologi
Lingkungan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Guritno, B. dan
Sitompul, S. M. 1995. Analisis Pertumbuhan
Tanaman.UGM Press. Yogyakarta.
Heddy, S. 1990. Biologi
Pertanian. Rajawali Press. Jakarta.
Lakitan, B. 2007. Dasar-Dasar
Fisiologi Tumbuhan. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Salisbury, dan Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan. ITB Press. Bandung.
Sitompul, S. M. dan Guritno. B. 1995. Pertumbuhan Tanaman. UGM Press. Yogyakarta.
Tjitrosoepomo, H.S. 1998. Botani Umum. UGM Press. Yogyakarta.
Wilkins, M. B. 1989. Fisologi Tanaman. Bumi Aksara. Jaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar